Kamis, 12 Agustus 2010

FILSAFAT ILMU

PS : MAGISTER ILMU HUKUM
BKU : HUKUM PUBLIK & OTONOMI DAERAH

Tujuan (lulusan yang diharapkan) :
1. Mampu meningkatkan pelayanan profesi melalui penelitian dan pengembangan.
2. Mampu berpartisipasi dalam pengembangan bidang ilmu HUKUM, khususnya masalah HUKUM BISNIS & OTONOMI DAERAH.
3. Mampu mengembangkan penampilan professional dalam spektrum yang lebih luas dengan mengkaitkan bidang ilmu atau profesi yang serupa.
4. Mampu merumuskan pendekatan penyelesaian berbagai masalah masyarakat dengan cara penalaran ilmiah.

Tujuan Filsafat Ilmu :
 Memberikan pemahaman tentang landasan substansi ilmu, dasar pijakan berpikir, memahami sumber dan status kebenaran, menumbuhkan semangat berpikir, pendekatan dan prosedur berpikir ilmiah, tanggungjawab ilmiah, cakrawala ilmu sosial dan ilmu alam, dan tujuan ilmu.

Silabus Filsafat Ilmu :
 Ilmu (sains) sebagai pengetahuan yang dipandu secara normatif dari (Tuhan Yang Maha Esa) pencarian atau penguasaan ilmu. Sumber & status kebenaran dan nilai ilmu. Manusia yg berkemampuan untuk mengetahui, nalar, sejarah perkembangan filsafat & ilmu, dunia rasa & ratio, ikhtiar versus takdir, sains empiris, penalaran deduktif, hubungan filsafat, sains dan metodologi, persamaan & perbedaan ilmu alamiah & ilmu sosial, perintisan ilmu (sains) berdasarkan agama.

Kompetensi dasar berkembang atau dikembangkan ?
Kemampuan dapat dibangkitkan :
• Oleh orang lain (dituntut belajar, diaktifkan instrumennya).
• Berupaya bangkit sendiri atas kesadarannya.
• Terdorong oleh kekuatan lingkungan.

Segala sesuatu yang dilewati dalam hidup, akan menjadi pengalaman (memory) dan akan terakumulasi menjadi kekuatan. Nilai yang terkandung akan mengalami reaksi (antara kebaikan dan keburukan).

Kompetensi dasar yang dimiliki diarahkan untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman akan isi silabus yang meliputi :
Teori Hukum, Organisasi Hukum, Hukum Publik, Hukum Privat, Politik Hukum, hingga Metodelogi penelitian.

Kesinambungan Filsafat Ilmu, Metodologi Penelitian, dan statistik meliputi;
• Filsafat ilmu, mengantarkan dorongan dan semangat manusia untuk mengembangkan ilmu. Menerangkan latar belakang pencarian ilmu dan kebenaran relatif suatu ilmu untuk menuju kesejahteraan, kemudahan memulai, memproses, serta kemudahan mengembangkan kegunaannya mengenai urusan Administrasi Publik, tanpa mengabaikan firman Allah SWT sebagai penjamin hidup-mati-dan hidup dalam kemuliaan.
• Metode penelitian, penunjang kemampuan proses pengkajian substansi, meliputi latar belakang, tujuan, dsb ============> hingga berbagai model penetapan dalam penarikan simpulan.
• Statistik, kolerasi, dan regresi, menunjang teknik tabulasi, penghitungan, dan penetapan nilai terhadap hasil perhitungan, untuk mendapatkan akurasi penarikan simpulan.

Substansi dasar kemampuan manusia (kompetensi dasar menulis) meliputi: kemampuan melihat, mendengar, membaca, menulis, menggambar, mencium, merasa, membayangkan, berbicara, berargumen, dan keterampilan teknis atas anggota badannya.

Pembagian operasi beberapa organ tubuh :
Mata => melihat, observasi
Telinga => mendengar
Mulut => membaca, berbicara, berargumen
Hidung => mencium
Lidah => merasa
Otak => berfikir, mengingat, menghitung, membayangkan,
berimajinasi
Tangan => menulis dan menggambar


FENOMENA BUDAYA (FITRAH MANUSIA – HAM)
I. CINTA KASIH
• Kasih sayang dalam keluarga, belas kasih, kemesraan, pemujaan kasih erotis

II. KEINDAHAN
• Renungan, Keindahan, Keserasian, Kehalusan, Kesenian, Keindahan obyektif dan subyektif

III. PENDERITAAN
• Penderitaan, Siksaan, Rasa sakit, Neraka

IV. KEADILAN
• Keadilan, Kejujuran, Kebenaran, Kecurangan, Pemulihan nama baik, Pembalasan

V. TANGGUNG JAWAB
• Tanggung jawab, Pengabdian, Kesadaran, Pengorbanan

VI. PANDANGAN HIDUP
• Pandangan hidup dan ideology, Cita-cita, Kebijakan, Sikap hidup

VII. KEGELISAHAN
• Kegelisahan, Sumber kegelisahan, Keterasingan, Kesepian, Ketidakpastian

VIII. HARAPAN
• Harapan, Tolak ukur harapan, Kehidupan, Kepercayaan, Pendidikan

IX. KEMERDEKAAN
• Hak azasi



PENGANTAR KE FILSAFAT
 Manusia di atas bumi memiliki kebebasan untuk bertindak!, akan tetapi kita (manusia) mengikatkan diri, sekaligus membebaskan diri berdasarkan agama. Menurut pendekatan Islam, manusia bertugas sebagai abid dan khalifah.
 Dalam diri manusia terdapat 3 model yang harus diterima dan dilakukan :
• Ikhtiar => Kemerdekaan manusia berusaha
• Taqdir => Keharusan universal
• Ikhlas => Kunci kebahagian hidup manusia, tidak ada kebahagiaan sejati tanpa keikhlasan, dimana keikhlasan selalu ada.
 Keikhlasan yang insani tidak mungkin ada tanpa kemerdekaan, (kemerdekaan dalam arti) :
• Kerja sukarela tanpa paksaan yang didorong oleh kemauan murni
• Kebebasan memilih sehingga pekerjaan itu benar-benar dilakukan sejalan dengan hati nurani
 Keikhlasan, merupakan pernyataan kreatif kehidupan manusia yang berasal dari perkembangan tidak terkekang daripada kemauan yang sebaik-baiknya.
 Dua aspek kehidupan manusia
a. Dunia : bersifat temporer
Amal perbuatan dengan akibat baik dan buruk yang harus ditanggung secara individual dan komunal sekaligus.
b. Akhirat : Abadi/Kekal/Eternal
Pertanggung jawaban secara individual dan mutlak.

Jadi Individualitas :
Kenyataan azasi yang pertama dan terakhir daripada kemanusiaan dan letak sebenarnya daripada nilai kemanusiaan itu sendiri, maka individualitas hanyalah yang azasi dan primer saja daripada kemanusiaan.
Kenyataan lain, sekalipun bersifat sekunder ialah bahwa individu dalam suatu bentuk hubungan tertentu dengan dunia sekitarnya.
Manusia hidup ditengah sesamanya. Kemerdekaan harus diciptakan untuk pribadi dalam konteks hidup ditengah alam dan masyarakat, sekalipun kemerdekaan adalah aesensi daripada kemanusiaan tidaklah berarti manusia selalu dan dimana saja merdeka adanya batas-batas tertentu itu dikarenakan adanya hukum. Hukum yang menguasai benda dan masyarakat, manusia sendiri tidak tunduk dan tidak pula tergantung kepada kemauan manusia, "keharusan universal" atau kepastian hukum atau takdir.
Jadi kalau kemerdekaan pribadi diwujudkan dalam kontek hidup di tengah alam dan masyarakat dimana terdapat "keharusan universal" yang tidak tertaklukkan, maka apakah bentuk hubungan yang dipunyai oleh seseorang kepada dunia sekitarnya, sudah tentu hubungan penyerahan.

Pengakuan adanya kepastian hukum atau takdir hanyalah pengakuan akan adanya BATAS-BATAS KEMERDEKAAN. Sebaliknya suatu persaratan yang positif daripada kemerdekaan adalah: “pengetahuan tentang adanya kemungkinan-kemungkinan kreatif manusia, yaitu tempat bagi adanya usaha yang bebas dan bertanggungjawab' (dinamakan IKHTIAR artinya pilihan merdeka).

Ikhtiar adalah kegiatan merdeka dari individu yang berarti kegiatan dari manusia merdeka.

 Pengetahuan adalah : segala hal yang diketahui tentang obyek tertentu
 Berdasarkan fungsi/kegunaan pengetahuan dibagi tiga katagori yaitu :
• ETIKA => Pengetahuan tentang baik dan buruk
• ESTETIKA => Pengetahuan tentang yang indah dan jelek
• LOGIKA => Pengetahuan tentang yang benar dan yang salah
 Berdasarkan sumbernya, pengetahuan dibagi atas :
1. FIKIRAN; PERASAAN; INDERA; INTUISI; WAHYU
 ILMU merupakan pengetahuan yang termasuk katagori logika dan gabungan dari sumber fikiran (rasio) dan indra yang disusun secara sistematis, diolah dengan metode tertentu, sehingga diperoleh hubungan kausalitas, fakta teori atau hukum.
 Berfilsafat adalah mencari kebenaran dari kebenaran untuk kebenaran dengan berfikir seradikal-radikalnya, sistematis dan universal tentang fenomena alam semesta.

BERFILSAFAT => ketika ilmu sudah mencapai batas kemampuan
BERNALAR => kegiatan berolah fikir => prosesnya disebut penalaran


 MENGAPA KITA PERLU MEMPELAJARI FILSAFAT ILMU?
 Tujuannya adalah untuk mengembangkan kemampuan melakukan penalaran secara ilmiah.
 Filsafat ilmu dapat ditelusuri melalui tiga pembeda:
1. ONTOLOGI => Melalui apa ? => Substansi
2. EPISTOMOLOGI => Bagaimana ? => Proses
3. AKSIOLOGI => Untuk apa ? => Manfaat
 Pengetahuan tersebut diketahui, disusun dan dimanfaatkan. Dalam upaya menemukan kebenaran ilmu, mencerdaskan kepada kriteria/ciri/teori:
• KOHERENSI : Ciri kebenaran yang bertumpu kepada azas konsistensi
• KORENPONDENSI : Ciri kebenaran yang bertumpu kepada kesesuaian antara materi yang dikandung oleh suatu pernyataan dengan obyek yang dikenai pernyataan dengan obyek yang dikenai pernyataan itu
• PRAGMATISME : Ciri kebenaran yang bertumpu kepada berfungsi atau tidaknya suatu pernyataan dalam lingkup, ruang dan waktu tertentu.
 Tingkat kebenaran dalam AL-QUR'AN :
1. ILMUL YAKIN => Kebenaran berdasarkan nalar/rasio
2. AINNUL YAKIN => Kebenaran berdasarkan fakta
3. HAQQUL YAKIN => Kebenaran yang haq/mutlak

INSTITUT KEBENARAN
Manusia adalah mahluk pencari kebenaran. Ada tiga cara/jalan untuk mencari, menghampiri dan menemukan kebenaran yaitu : ilmu, filsafat dan agama. Ke tiga institut tersebut mempunyai titik persamaan, titik perbedaan dan titik singgung yang selalu terdapat dengan yang lainnya.
A. ILMU
Mohammad Hatta (1954), mengatakan bahwa pengetahuan yang didapat dari pengetahuan disebut pengetahuan pengalaman (pengetahuan), sedangkan pengetahuan yang didapat dari keterangan/penjelasan disebut ilmu.
Langeveld (1955) mengemukakan bahwa pengetahuan adalah kesatuan subyek yang mengetahui dan obyek yang diketahui. Suatu kesatuan dalam obyek itu dipandang oleh subyek sebagai diketahuinya.
Jame K. Feibleman (1963) merumuskan Knowledge : relation between object and subject (pengetahuan adalah hubungan antara obyek dan subyek).
Dalam Ensiklopedia Indonesia : Menurut epistomologi setiap pengetahuan manusia adalah hasil dari berkontaknya dua macam besaran, yaitu:
a. Benda atau yang diperiksa, diselidiki dan akhirnya diketahui (obyek)
b. Manusia yang melakukan pelbagai pemeriksaan dan penyelidikan dan akhirnya mengetahui/mengenal benda atau hal lainya.
Hasil usaha pemahaman manusia yang disusun dalam suatu sistema mengenai kenyataan, struktur, pembagian, bagian-bagian dan hukum tentang hal ikhwal yang diselidiki (alam, manusia dan juga agama).
Sejauh yang dapat dijangkau daya pemikiran manusia yang dibantu penginderaannya diuji secara empirik, riset dan eksperimental.

B. FILSAFAT
 Mencoba menjawab masalah yang tidak dapat dijawab oleh ilmu pengetahuan biasa, karena masalah-masalahnya diluar atau diatas jangkauan ilmu pengetahuan biasa.
 Hasil daya upaya manusia dengan akal budinya untuk memahami (mendalami, menyelami) secara radikal dan integral "HAKEKAT SARWA" yang ada.
 HAKIKAT => TUHAN, ALAM, DAN MANUSIA serta sikap manusia termaksud dalam konsekwensi dari faham (pemahamannya) tersebut.
Pudjawijatna (1963), menerangkan : "Filo artinya cinta". Dalam arti seluas-luasnya yaitu ingin dan karena ingin itu lalu berusaha mencapai yang diinginkan. Sofia artinya kebijaksanaan. Bijaksana ini pun adalah kata asing, dan artinya pandai, mengerti dengan mendalam.
Jadi filsafat menurut namanya dimaknakan: ingin mengerti dengan mendalam atau cinta kepada kebijaksanaan.
Soemadi Soerjabrata (1970), menerangkan kata sophia dikenal pada zaman Homerus (kira-kira 700 sm) yang mempunyai arti (kira-kira 485 sm) yang berarti mencintai kebenaran.
Kata philosophos dikemukakan oleh Herakleitos (540 - 480 sm), yang mempunyai arti ahli filsafat yang berpengetahuan luas sebagai pengejawantahan dari kecintaan akan kebenaran. Sementara orang mengatakan bahwa Phytagoras (580 - 500 sm) yang mengemukakan philosophos.
Pada masa kaum Sofis dan Socrates memberi arti philosophein sebagai penguasaan secara sistimatis dari pengetahuan theoris. Philosophia adalah hasil dari perbuatan (philosophein), sedangkan philosophos adalah orang yang melakukan philosophein.
Maka dari kata philosophia, timbul kata-kata Chilosophia (latin), philosophie (Belanda), phisolophie (Jerman), philosophy (Inggris), philosophie (Perancis) dan bahasa Indonesia disebut filsafat atau falsafah.

C. AGAMA
 Satu sistema (tata keimanan atau tata keyakinan) atas adanya sesuatu yang mutlak di luar manusia.
 Satu sistema RITUS (tata peribadatan) manusia kepada yang dianggapnya mutlak.
 Satu sistema NORMA (tata kaidah) yang mengatur hubungan manusia dan alam lainnya sesuai dengan sejalan peribadatan termaksud diatas.

TITIK PERSAMAAN
Titik persamaan, baik ILMU, maupun FILSAFAT ataupun AGAMA bertujuan sekurang-kurangnya berurusan dengan hal yang sama => dalam segi KEBENARAN.
ILMU PENGETAHUAN dengan metodenya sendiri mencari kebenaran tentang alam (termasuk di dalamnya manusia), kemudian FILSAFAT dengan wataknya sendiri pula menghampiri kebenaran baik tentang alam, maupun tentang manusia yang tidak dijawab oleh ilmu karena diluar jangkauannya ataupun tentang TUHAN.
AGAMA dengan karakteristiknya pula memberikan jawaban atas persoalan azasi yang mempertanyakan manusia baik tentang alam maupun tentang manusia atau tentang TUHAN.

TITIK PERBEDAAN
Baik ILMU maupun FILSAFAT keduanya dari sumber yang sama yaitu RA'YU (akal, budi, rasio, nouse, ride, know), sedangkan AGAMA bersumber dari WAHYU ALLAH, SWT.
ILMU PENGETAHUAN diperoleh dengan jalan riset dan pengalaman (EMPIRIK), percobaan (EXPERIMEN) sebagai batu ujian. FILSAFAT menghampiri KEBENARAN dengan cara mengembarakan atau mengelanakan akal budi secara RADIKAL (mengakar) dan INTEGRAL (menyeluruh) serta UNIVERSAL (mengalam), tidak merasa terikat oleh ikatan apapun kecuali karena tangannya sendiri (LOGIKA).
Manusia mencari dan menemukan kebenaran dengan mendalami AGAMA dengan jalan mempertanyakan (mencari jawaban tentang berbagai masalah azasi dari ataupun kepada kitab suci, kodifikasi firman ILLAHI untuk manusia di atas planet bumi.
Kebenaran ILMU adalah KEBENARAN POSITIF yaitu berlaku sampai saat ini, KEBENARAN FILSAFAT adalah kebenaran SPEKULATIF atau dugaan yang tidak dapat dibuktikan secara EMPIRIK atau EKSPERIMENTAL. Baik kebenaran ILMU maupun KEBENARAN FILSAFAT disebut KEBENARAN RELATIF (NISBI), sedangkan KEBENARAN AGAMA adalah KEBENARAN MUTLAK (absolut) ; karena AGAMA diturunkan oleh Yang Maha Sempurna.
Baik ILMU maupun FILSAFAT kedua-duanya diawali oleh rasa SANKSI/TIDAK PERCAYA sedangkan AGAMA dimulai dengan sikap PERCAYA atau IMAN.

TITIK SINGGUNG
Titik singgung FILSAFAT, ILMU dan AGAMA, tidak semua masalah yang dipertanyakan manusia bisa dijawab oleh ilmu pengetahuan, karena ilmu itu terbatas, oleh subyeknya, si peneliti (obyek) baik obyek materiil maupun obyek normanya, oleh metodologinya.
Tidak semua masalah yang tidak terjawab oleh ILMU lantas dengan sendirinya bisa dijawab oleh FILSAFAT. Jawaban FILSAFAT sifatnya SPEKULATIF dan ALTERNATIF tentang sesuatu masalah azasi yang sama terdapat berbagai JAWABAN FILSAFAT atau FILSUF sesuai atau sejalan dengan titik tolak AKHLI FILSAFAT itu, sedangkan AGAMA memberikan jawaban tentang berbagai azasi yang sama sebab tidak terjawab oleh ILMU yang dipertanyakan (tidak terjawab) secara tuntas oleh FILSAFAT akan tetapi perlu ditegaskan disini, tidak semua persoalan manusia ada jawabannya dalam AGAMA, adapun soal-soal manusia yang tidak ada jawabannya dalam agama dapat kita sebutkan:

 Soal-soal kecil, detail yang tidak prinsipil: contoh jalan sebelah kiri atau sebelah kanan, soal rambut panjang atau pendek, soal cek atau wesel.
 Persoalan-persoalan yang tidak secara jelas dan tegas, terdapat dalam AL-QUR'AN dan AS SUNNAH yang diserahkan kepada IJTIHAD (hasil daya pemikiran manusia yang tidak berlawanan dengan jiwa dan semangat AL-QUR'AN dan AS SUNNAH)
 Persoalan-persoalan yang tetap merupakan misteri, diliputi rahasia yang tidak terjangkau akal budi dan fakultas-fakultas rohani manusia lainnya karena keterbatasannya, yang merupakan ilmu (dengan sifat mutlak ALLAH AWT) yang karena kebijaksanaannya tidak dilimpahkan kepada manusia seperti HAKEKAT, ROH, QODLO, QADAR dan lain-lain. Dengan kekuatan akal budi (ILMU dan FILSAFAT) manusia "NAIK" menghampiri dan memetik kebenaran yang bisa dijangkau oleh kapasitasnya sendiri yang terbatas itu, disamping itu karena sifat rahmat-Nya berkenan menurunkan WAHYU kepada umat manusia di muka planet bumi ini agar mereka menemukan kebenaran AZASI yang tidak dapat dicapai dan ditemukan sekedar kekuatan akalbudinya semata.
ALLAH SWT telah menganugerahkan kepada manusia; alam, akal budi, dan wahyu. Dengan akal budinya manusia dapat lebih memahami baik ayat QUR'ANIAH (WAHYU) maupun ayat KAUNIAH (ALAM) untuk kebahagiaan mereka yang hakiki.


RANGKUMAN 1
A. Mustahil terdapat pertentangan antara AGAMA disatu pihak dengan ILMU PENGETAHUAN (filsafat yang benar) dipihak lainnya, sebab ILMU dan FILSAFAT yang benar adalah usaha manusia dengan kekuatan akal budinya yang relatif berhasil dalam memahami kenyataan alam.
B. Susunan alam, pembagian alam, bagian-bagian alam dan hukum (yang berlaku) bagi alam misalnya AL-QUR'AN tidak lain adalah pembakuan segenap alam semesta (ayat kauniah) dalam satu AL-KITAB. Kedua ayat ALLAH Qur'aniah dan Kauniah saling menafsirkan. Perbedaan (bukan pertentangan) perumusan antar AGAMA disatu pihak dan ILMU dan FILSAFAT yang benar dipihak lainnya adalah mungkin saja. Perbedaan formulasi antara yang satu dengan yang lainnya tentang masalah tertentu adalah lazim dalam ILMU PENGETAHUAN. Bahkan formulasi antara dua antropologi (antropologi fisik disatu pihak dan antropologi budaya dipihak lainnya) mengenai manusia dan hewan, besar kemungkinan berbeda sama sekali.

RANGKUMAN 2
A. AGAMA telah banyak dihayati (dipahami, diselami, dialami) dan oleh karena itu lebih banyak berbicara pada manusia yang berilmu pengetahuan (filsafat luas dan dalam)
B. Bagi seorang seorang sarjana Ilmu Pengetahuan Alam, AL-QUR'AN merupakan buku/kitab tentang alam. Bagi sarjana Ilmu Pengetahuan Sosial dan Culture Scientist (budaya) AL-QUR'AN merupakan buku/kitab tentang manusia. Bagi seorang Theolog (sarjana studi ketuhanan) AL-QUR'AN ini merupakan buku tentang Tuhan dan Ketuhanan. Bagi seorang Filsuf (ahli filsafat) AL-QUR'AN mengenai berbagai masalah azasi yang menjadi bahan perbincangan filsafat dari masa ke masa.
C. Agama memberikan arahan, dorongan dan tujuan kepada ilmu dan untuk mengembangkan ilmu lebih lanjut.

ONTOLOGI
HAKIKAT APA YANG DIKAJI
A. Metafisika
Metafisika merupakan tempat berpijak dari setiap pemikiran filsafat termasuk pemikiran ilmiah.
Diibaratkan pikiran adalah roket yang meluncur ke bintang-bintang, menembus galaksi dari awan gemawan, maka landasannya adalah metafisika.

B. Beberapa Tafsiran Metafisika
Tafsiran manusia terhadap alam ini bahwa terdapat ujud-ujud yang bersifat gaib (supernatural)
 Animisme merupakan kepercayaan berdasarkan pemikiran supernatural, misalnya percaya bahwa terdapat roh-roh gaib yang terdapat dalam benda (batu, pohon dan air terjun)
 Naturalisme menolak pendapat bahwa terdapat ujud-ujud yang bersifat supernatural.
 Materialisme merupakan paham naturalisme, bahwa gejala-gejala alam tidak disebabkan oleh pengaruh kekuatan yang bersifat gaib, melainkan oleh kekuatan yang terdapat dalam alam itu sendiri.
 Materialisme dikembangkan oleh Democritos (460 - 370 sm) yang mengemukakan bahwa unsur dasar dari alam ini adalah atom.
Apa itu manis ? manis itu manis
Apa itu panas ? panas itu panas
Apa itu dingin ? dingin itu dingin
Apa itu warna ? warna itu warna
Manis, panas, dingin dan warna merupakan terminologi yang kita berikan pada gejala yang kita tangkap lewat indera. Artinya obyek dari penginderaan sering kita anggap nyata, padahal tidak demikian, hanya atom dan kehampaan itulah yang bersifat nyata.
 Aliran mekanistik, melihat gejala alam (termasuk mahluk hidup) hanya merupakan gejala kimia fisik.
 Aliran vitalistik, hidup adalah sesuatu yang unik yang berbeda secara substantif dengan proses kimia fisik.
 Aliran monistik, tidak membedakan antara pikiran dan zat, yang membedakannya hanya dalam gejala yang disebabkan proses yang berlainan, namun mempunyai substansi yang sama.
Manusia berbeda dengan robot terletak dari komponen dan struktur yang membangunnya dan bukan terletak pada substansinya yang pada hakikatnya berbeda secara nyata.
 Aliran dualisme, dalam metafisika penafsiran dualistik membedakan antara zat dan kesadaran (pikiran).
Rene Descartes (1596 - 1650), John Locke (1632 - 1714) dan George Berkeley (1685 - 1753) merupakan filsuf yang menganut aliran dualistik berpendapat bahwa apa yang ditangkap pikiran (termasuk penginderaan dari segenap pengalaman manusia) adalah bersifat mental.
Rene Descartes (1596 - 1650), yang bersifat nyata adalah pikiran, sebab dengan berpikir maka sesuatu itu lantas ada. Cogito ergo sunn ! (saya berpikir maka saya ada !).
John Locke (1632 - 1714), bahwa pikiran manusia pada mulanya dapat diibaratkan sebuah lempeng lilin yang licin (tabula rasa) dimana pengalaman indera kemudian melekat. Dengan kata lain pikiran dapat diibaratkan sebagai organ yang menangkap dan menyimpan pengalaman indera.
George Berkeley (1685 - 1753) terkenal dengan pernyataannya "To be is to be perceived !" (ada adalah disebabkan persepsi !)
 Pada dasarnya tiap ilmuwan boleh mempunyai filsafat individu yang berbeda-beda :
 bisa menganut paham mekanistik,
 bisa menganut paham vitalistik,
 bisa menganut paham materialistik,
 bisa menganut paham idealistik
Titik temu kaum ilmuwan dari semua ini adalah sifat pragmatis dari ilmu.


C. Beberapa Asumsi dalam Ilmu
 Kehidupan penuh dengan 1001 teka-teki dan sejuta rahasia. Pandangan itu berubah setelah dewasa, dunia ternyata tidak sebesar yang kita kira, ujud yang penuh dengan misteri ternyata begitu saja. Kesemestaanpun menciut, bahkan dunia bisa selebar daun kelor bagi orang yang putus asa.
 Mengapa terdapat perbedaan pandangan yang nyata terhadap obyek yang begitu kongkrit seperti sebuah bidang.
Dalam bidang datar yang sama, ternyata masalah yang dihadapi arsitek-arsitek amuba berbeda dengan ahli ilmu ukur.
Bagi amuba bidang datar itu tidak rata dan mulus seperti pipi wanita yang sudah dimake-up, melainkan bergelombang penuh dengan lekukan yang kurang mempesona.
Jarak yang terdekat bukan garis lurus (seperti diformulasikan dalam ilmu ukur), melainkan garis lengkungan, seperti tetesan bianglala. Perbedaan ini diciptakan oleh skala observasi, bagi skala observasi anak kecil pohon-pohon natal itu begitu gigantik (megah/besar), sedangkan skala observasi amuba, bidang datar ini merupakan daerah pemukiman yang berbukit-bukit.
Jadi secara mutlak sebenarnya tak ada yang tahu seperti apa sebenarnya bidang datar itu.
Wallahu a'lam bishawab, hanya Tuhan yang tahu.
 Secara mekanistik terdapat empat komponen analisis utama yakni :
 Zat
 Gerak
 Ruang
 Waktu
Newton (1986) keempat komponen tersebut bersifat absolut, maka zat berbeda secara substantif dengan energi.
Einstein (1905) berasumsi bahwa keempat komponen itu bersifat relatif, tidak mungkin kita mengukur gerak secara absolut, bahkan zat sendiri tidak mutlak, hanya bentuk lain dari energi, dengan rumusnya : E = mc2
 Indeterministik dalam gejala fisik muncul dengan penemuan Niels (1913), menyatakan bahwa elektron bisa berupa gelombang cahaya dan bisa juga berupa partikel, tergantung dari konteknya.
 Werner Heisenberg (1927) menyatakan bahwa untuk pasangan besaran tertentu (conjugate magnitude) pada prinsipnya tidak mungkin mengukur kedua besaran tersebut pada waktu yang sama dengan ketelitian yang tinggi.
 William Bernet (1962) menyatakan bahwa terdapat limit dalam kemampuan manusia untuk mengetahui dan meramal gejala-gejala fisik.
 Masalah asumsi ini akan lebih rumit lagi bila berbicara dengan ilmu-ilmu sosial :
 Manusia yang neurotik adalah mereka yang membangun rumah di atas awan
 Manusia yang psikotik adalah mereka yang tinggal di dalamnya
 Manusia yang psikiater adalah mereka yang menagih sewanya
 Siapakah kau sebenarnya oh . . . manusia ?
 Dalam kegiatan ekonomi, maka dia mahluk ekonomi
 Dalam kegiatan politik, maka dia political animal
 Dalam kegiatan pendidikan, maka dia homo educandum


D. Peluang
 Teori-teori keilmuan tidak akan pernah mendapatkan hal yang pasti mengenai kejadian, tetapi simpulan yang didapat hanya bersifat probalistik
 Berdasarkan Meteorologi dan Geofisika, tidak pernah pasti bahwa besok akan turun hujan atau tidak turun hujan  penasaran
 Seorang ilmuan mengatakan dengan probalitas 0,8 besok akan turun hujan
 Peluang 0,8 secara sederhana dapat diartikan bahwa probalitas untuk turun hujan besok adalah 8 dari 10 (yang merupakan kepastian).
Peluang 0,8 mencirikan bahwa pada 10 kali ramalan tentang akan jatuh hujan, 8 kali memang hujan itu turun, dan dua kali ramalan meleset.
 Ilmu tidak pernah ingin dan tidak pernah berpretensi untuk mendapatkan pengetahuan yang bersifat mutlak
 Dalam soal pretensi, maka ilmu kalah dengan pengetahuan perdukunan.
Dukun mengatakan saudara akan sembuh dengan minum air ini, dia tidak pernah mengatakan minuman air ini dengan peluang 0,8 maka saudara akan sembuh.
 Ilmu memberikan pengetahuan sebagai dasar untuk mengambil keputusan, dimana keputusan tersebut harus didasarkan kepada penafsiran simpulan ilmiah yang bersifat relatif.
 Jadi kata akhir dari suatu keputusan terletak ditangan pengambil keputusan dan bukan pada teori-teori keilmuan (itulah sebabnya orang tidak pernah mau mengambil keputusan sendiri lebih senang pergi ke dukun).
 Berkonsultasi pada ahli psikologi atau psikiater paling-paling diberi alternatif-alternatif yang dapat diambil, tetapi kalau ke dukun pilih jalan ini dijamin berhasil.


E. Batas-batas Penjelasan Ilmu
 Ilmu memulai penjelajahannya pada pengalaman manusia dan berhenti dibatas pengalaman manusia.
 Apakah ilmu mempelajari hal ihwal surga dan neraka ?
Jawabannya tidak, karena surga dan neraka di luar jangkauan pengalaman manusia.
 Apakah ilmu mempelajari sebab musabab kejadian terciptanya manusia ?
Jawabannya tidak, karena kejadian itu berada diluar jangkauan pengalaman manusia.
 Mengapa ilmu hanya membatasi hal-hal yang berbeda dalam batas pengalaman manusia ?
Jawabannya terletak pada fungsi ilmu itu sendiri dalam kehidupan manusia, yakni sebagai alat pembantu manusia dalam menanggulangi masalah-masalah yang dihadapinya sehari-hari.
Ilmu diharapkan dapat membantu dalam memerangi penyakit, membangun jembatan, membikin irigasi, membangkitkan tenaga listrik, mendidik anak, memeratakan pendapatan nasional dan sebagainya.
 Ilmu tanpa (bimbingan moral) agama adalah buta.
Kebutuhan moral dari ilmu mungkin membawa kemanusiaan ke jurang malapetaka. Dewasa ini 40.000 kepala nuklir dengan kekuatan 1.000.000 kali bom atom yang dijatuhkan di Hirosima. Kekuatan ini cukup untuk menghancurkan bumi menjadi berkeping-keping.
 Ruang penjelajahan keilmuan menjadi kapling-kapling berbagai disiplin keilmuan.
Kalau pada fase permulaan hanya terdapat ilmu-ilmu alam (natural philosophy) dan ilmu-ilmu sosial (moral philosophy), maka dewasa ini terdapat lebih dari 650 cabang keilmuan.
 Cabang-cabang Ilmu
 Pada dasarnya cabang-cabang ilmu berkembang dari dua cabang utama yakni :
 Filsafat Alam menjadi rumpun ilmu-ilmu alam (the natural sciences)
 Filsafat Moral yang kemudian berkembang ke dalam ilmu-ilmu sosial (the social sciences)
 Ilmu-ilmu alam membagi menjadi :
 Ilmu Alam (the physical sciences)
 Ilmu Hayat (the biological sciences)
 Ilmu alam bertujuan mempelajari zat yang membentuk alam semesta. Bercabang menjadi :
 Fisika (mempelajari massa dan energi)
 Kimia (mempelajari substansi zat)
 Astronomi (mempelajari benda-benda langit)
 Ilmu Bumi (the earth sciences) mempelajari bumi
 Tiap cabang ilmu membagi menjadi ranting-ranting ilmu seperti : Fisika berkembang menjadi mekanika, hidrodinamika, bunyi, cahaya, panas, kelistrikan dan magnetisme, fisika nuklir dan kimia fisik.
 Ilmu-ilmu murni berkembang menjadi ilmu terapan :
ILMU MURNI ---------------------- ILMU TERAPAN
Mekanika ---------------------- Mekanika Teknik
Hidrodinamika ---------------------- Tekni Aeronautikal/
Teknik & desain Kapal
Bunyi ---------------------- Teknik Akustik
Cahaya dan Optik ---------------------- Teknik Iluminasi
Kelistrikan ---------------------- Teknik Elektronik
Magnetisme ---------------------- Teknik Kelistrikan
Fisika Nuklir ---------------------- Teknik Nuklir

 Cabang Ilmu Sosial berkembang agak lambat dibandingkan ilmu alam
 Antropologi, mempelajari manusia dalam perspektif waktu dan tempat
 Psikologi, mempelajari proses mental dan kelakuan manusia
 Ekonomi, mempelajari manusia dalam memenuhi kebutuhan kehidupan lewat proses pertukaran
 Sosiologi, mempelajari struktur organisasi sosial manusia
 Ilmu Politik, mempelajari sistem dan proses dalam kehidupan manusia berpemerintahan dan bernegara)
 Cabang utama ilmu-ilmu sosial kemudian mempunyai cabang-cabang, misalnya Antropologi terpecah menjadi lima yakni:
 Arkeologi
 Antropologi Fisik
 Linguistik
 Etnologi
 Antropologi Sosial/Kultur
EPISTEMOLOGI
CARA MENDAPATKAN PENGETAHUAN YANG BENAR
A. Jarum Sejarah Pengetahuan
 Sebelum Charles Darwin menyusun teori evolusi, tidak terdapat perbedaan antara berbagai pengetahuan. Segala apa yang kita ketahui adalah pengetahuan.
 Apakah itu cara memburu gajah
 Cara mengobati sakit gigi
 Menentukan kapan bercocok tanam
 Berkembangnya abad peradaban, maka konsep kesamaan berubah kepada perbedaan. Mulai terdapat perbedaan yang jelas antar berbagai pengetahuan, yang mengakibatkan timbulnya spesialisasi pekerjaan dan konsekuensinya mengubah struktur kemasyarakatan.
 Pohon pengetahuan mulai dibeda-bedakan paling tidak berdasarkan :
 Apa yang diketahui?
 Bagaimana cara mengetahui?
 Untuk apa pengetahuan itu dipergunakan?
 Secara metafisik ilmu mulai dipisahkan dengan moral. Berdasarkan obyek yang ditelaah mulai dibedakan ilmu-ilmu alam dan ilmu-ilmu sosial.
 Dari cabang ilmu yang satu sekarang ini diperkirakan berkembang lebih dari 650 ranting disiplin keilmuan. Perbedaan yang terperinci ini menimbulkan keahlian yang makin spesifik.

B. Pengetahuan
 Pengetahuan merupakan khasanah kekayaan mental yang secara langsung atau tidak langsung turut memperkaya kehidupan kita.
 Pengetahuan merupakan sumber jawaban bagi berbagai pertanyaan yang muncul dalam kehidupan
 Apa yang harus kita lakukan apabila anak kita demam dan kejang?
 Lagu apa yang harus kita nyanyikan agar anak tertidur lelap?
 Kemana kita mesti berpaling, jika insan yang sangat dicintai meninggalkan kita?
 Pengetahuan pada dasarnya menjawab jenis pertanyaan tertentu yang diajukan, oleh karena itu agar kita dapat memanfaatkan segenap pengetahuan secara maksimal harus kita ketahui jawaban apa saja yang mungkin bisa diberikan oleh suatu pengetahuan tertentu.
 Terhadap pengetahuan mana suatu pertanyaan tertentu harus diajukan?
 Apakah yang akan terjadi sesudah manusia mati ? maka pertanyaan itu tidak bisa diajukan kepada ilmu melainkan kepada agama, sebab secara ontologis ilmu membatasi diri pada pengkajian obyek yang berada dalam lingkup pengalaman manusia.
 Sedangkan agama memasuki penjelajahan yang bersifat transendental yang berada di luar pengalaman manusia.
 Pada hakekatnya kita mengharapkan jawaban yang benar, maka bagaimana cara menyusun pengetahuan yang benar?
 Landasan epistomologi ilmu disebut metode ilmiah
 Metode ilmiah adalah cara yang dilakukan ilmu dalam menyusun pengetahuan yang benar
 Apa yang disebut benar? sedangkan dalam khasanah filsafat terdapat teori kebenaran
 Setiap jenis pengetahuan mempunyai ciri-ciri yang spesifik mengenai:
 Apa (ontologi)
 Bagaimana (epistemologi)
 Untuk apa (aksiologi)
 Ketiga landasan ini saling berkaitan:
Ontologi ilmu terkait dengan epistemologi ilmu, dan epistemologi ilmu terkait dengan aksiologi ilmu dan seterusnya.
 Ilmu mempelajari alam sebagaimana adanya dan terbatas pada lingkup pengalaman.
 Pengetahuan dikumpulkan oleh ilmu dengan tujuan untuk menjawab permasalahan kehidupan yang sehari-hari dihadapi
 Pengetahuan ilmiah atau ilmu dapat diibaratkan alat bagi manusia dalam memcahkan berbagai persoalan yang dihadapi
 Pemecahan masalah pada dasarnya adalah dengan meramalkan dan mengontrol gejala alam.
 Oleh karena itu sering dikatakan bahwa dengan ilmu manusia mencoba memanipulasi dan menguasai alam.
 Berdasarkan landasan ontologi dan aksiologi maka bagaimana mengembangkan landasan epistemologi yang cocok?
 Agar mampu meramalkan dan mengontrol sesuatu, maka harus mengetahui mengapa sesuatu itu terjadi?
 Mengapa terjadi longsor?
 Mengapa terjadi kekurangan makanan di daerah yang tanahnya gersang?
 Mengapa anak remaja lebih dinamis?
Untuk bisa meramalkan dan mengontrol sesuatu, maka harus menguasai pengetahuan yang menjelaskan peristiwa itu, dengan demikian penelaahan ilmiah diarahkan kepada usaha untuk mendapatkan penjelasan mengenai gejala alam.
 Ilmu mencoba mengembangkan sebuah model yang sederhana mengenai dunia empiris dengan mengabstraksikan realitas menjadi beberapa variabel yang terkait dalam sebuah hubungan yang bersifat rasional.
 Sedangkan seni (seni sastra) mencoba mengungkapkan obyek penelaahan, sehingga menjadi bermakna dan yang meresapinya lewat berbagai kemapuan manusia untuk mengungkapnya, seperti pikiran, emosi dan penginderaan.
 Ilmu mencoba mencarikan penjelasan mengenai alam menjadi simpulan yang bersifat umum dan impersonal. Sebaliknya, seni tetap bersifat individual dan personal, dengan memusatkan perhatian pada pengalaman hidup manusia perorangan.
 Nenek moyang kita sudah memperhatikan berbagai kekuatan alam, seperti hujan, banjir, topan, dan letusan gunung berapi, mereka tidak berdaya menghadapi kekuatan alam tersebut.
 Gejala alam tersebut pada waktu itu sukar diramalkan, maka berkembanglah tokoh-tokoh supernatural, sehingga muncullah dewa pemarah, dewa pendendam atau mudah jatuh cinta.
 Tahap selanjutnya manusia mulai mencoba menafsirkan dunia ini terlepas dari belenggu mitos, mereka menatap kehidupan ini tidak lagi dari balik harum dan asap kemenyan.
 Seperti Ebit G. Ade, tidak lagi berpaling kepada bermacam-macam spekulasi namun bertanya langsung kepada angin, awan dan rumput yang bergoyang.
 Mempelajari alam, maka pengetahuan akan berkembang untuk kegunaan praktis seperti membuat tanggul, pembasmi hama dan bercocok tanam, maka berkembanglah pengetahuan yang berakar pada pengalaman berdasarkan akal sehat (common sense) yang didukung oleh metode mencoba-coba (trial and error).
 Pengetahuan berkembanglah terus dan tumbuhlah:
 Seni terapan (applied arts), yang mempunyai kegunaan langsung dalam kehidupan badaniah sehari-hari.
 Seni halus (fine arts), yang bertujuan untuk memperkaya spiritual.
 Seni ini pada hakikatnya mempunyai dua ciri yaitu :
 Bersifat deskriptif dan fenomenologis, sifat deskriptif ini mencerminkan proses pengkajian yang menitik beratkan kepada penyelidikan gejala-gejala yang bersifat teoritis atomistis (misalnya konsep gravitasi atau magnetan yangbersifat teoritis).
 Ruang lingkup terbatas, sifat terbatas seni terapan tidak menunjang berkembangnya teori-teori yang bersifat umum seperti teori gravitasi Newton dan teori medan elektromagnetik Maxwell, sebab sebab tujuan analisisnya bersifat praktis.
 Tiap peradaban betapapun primitifnya mempunyai kumpulan pengetahuan yang berupa akal sehat.
 Randall dan Buchler (1969) mendefinisikan akal sehat sebagai pengetahuan yang diperoleh lewat pengalaman secara tidak sengaja yang bersifat spontan dan kebetulan.
 Titus (1959) karakteristik akal sehat karena:
 Landasannya yang berakar pada adat dan tradisi, maka akal sehat cenderung untuk bersifat kebiasaan dan pengulangan.
 Landasannya yang berakar kurang kuat, maka akal sehat cenderung untuk bersifat kabur dan samar-samar.
 Simpulan yang ditarik sering berdasarkan asumsi yang tidak teruji.
 Berdasarkan akal sehat, adalah masuk akal setelah beberapa kali mengalami terbit dan terbenamnya matahari untuk menyimpulkan bahwa matahari berputar mengelilingi bumi.
 Oleh karena itu penemuan ilmiah yang mula-mula sukar diterima oleh masyarakat sebab bertentangan dengan akal sehat, seperti penemuan bahwa bukan matahari yang mengelilingi bumi melainkan sebaliknya.
 Perkembangan selanjutnya dari pengetahuan adalah tumbuhnya rasionalisme yang secara kritis mempermasalahkan dasar-dasar pikiran yang bersifat mitos.
 Pada dasarnya rasionalisme bersifat majemuk dengan berbagai kerangka pemikiran yang dibangun secara deduktif disekitar pemikiran tertentu.
 Dalam menafsirkan suatu obyek tertentu, maka berkembanglah berbagai pendapat, aliran, teori dan madhab filsafat.
 Rasionalisme dengan pemikiran deduktif sering menghasilkan simpulan yang benar bila ditinjau dari alur-alur logika, namun terkadang sangat bertentangan dengan kenyataan yang sebenarnya.
 Bagaimana caranya agar dapat mengembangkan ilmu yang mempunyai kerangka penjelasan yang masuk akal dan sekaligus mencerminkan yang sebenarnya?
 Dari pertanyaan tersebut, maka berkembanglah metode eksperimen yang merupakan jembatan antara penjelasan teoritis yang hidup di alam rasional dengan pembuktian yang dilakukan secara empiris.
 Metode eksperimen dikembangkan oleh sarjana-sarjana Muslim pada abad keemasan Islam, ketika itu ilmu dan pengetahuan lainnya mencapai kulminasi antara abad IX dan XII Masehi.
 Semangat mencari kebenaran dimulai oleh pemikir-pemikir Yunani dan hampir padam dengan jatuhnya kaisar Romawi, kemudian dihidupkan kembali dalam kebudayaan Islam.
 Jika orang Yunani adalah bapak metode ilmiah, maka orang muslim adalah bapak angkat metode ilmiah.
 Dalam perjalanan sejarah, maka lewat muslimlah dan bukan lewat kebudayaan latin, dunia modern sekarang ini mendapat kekuatan dan cahayanya.
 Pertanian di Spanyol misalnya mendapat warisan peradaban Islam yang bermanfaat sampai saat ini yakni dalam bentuk irigasi yang bersumber pada penghargaan bangsa Arab yang sangat tinggi terhadap air yang sangat langka di padang pasir.
 Berkembang dan diterimanya metode ilmiah adalah sebagai paradigma oleh masyarakat keilmuan, maka sejarah kemanusiaan menyaksikan perkembangan pengetahuan yang sangat cepat.
 Metode ilmiah memanfaatkan kelebihan metode-metode berpikir yang ada dan mencoba untuk memperkecil kekurangannya.
 Pengetahuan ilmiah tidak sukar untuk diterima, sebab pada dasarnya adalah akal sehat, meskipun ilmu bukanlah sembarang akal sehat, meskipun ilmu bukanlah sembarang akal sehat melainkan akal sehat terdidik.
 Pengetahuan ilmiah tidak sukar untuk dipercaya, sebab dapat diandalkan, meskipun tentu saja tidak semua masalah dapat dipecahkan secara keilmuan.


C. Metode Ilmiah
 Metode ilmiah merupakan prosedur dalam mendapatkan pengetahuan yang disebut ilmu.
 Ilmu merupakan pengetahuan yang didapat lewat metode ilmiah.
 Tidak semua pengetahuan dapat disebut ilmu, karena ilmu harus memenuhi syarat-syarat tertentu yang tercantum dalam metode ilmiah.
 Menurut Senn (1971) :
 Metode merupakan suatu prosedur atau cara mengetahui sesuatu yang mempunyai langkah-langkah sistematis.
 Metodologi merupakan suatu pengkajian dalam mempelajari peraturan-peraturan dalam metode tersebut.
 Metodologi ilmiah merupakan pengkajian dari peraturan-peraturan yang terdapat dalam metode ilmiah.
 Metodologi ini secara filsafat termasuk dalam epistemologi.
 Epistemologi merupakan pembahasan mengenai bagaimana mendapatkan pengetahuan :
 Apakah sumber pengetahuan ?
 Apakah hakikat, jangkauan dan ruang lingkup pengetahuan ?
 Apakah manusia dimungkinkan untuk mendapatkan pengetahuan ?
 Sampai tahap mana pengetahuan yang mungin untuk ditangkap manusia ?
 Huxley (1964) metode ilmiah merupakan ekspresi mengenai cara bekerja pikiran, dengan cara bekerja, maka pengetahuan yang dihasilkan diharapkan mempunyai karakteristik-karakteristik tertentu yang diminta oleh pengetahuan ilmiah, yaitu sifat rasional dan teruji dan dapat diandalkan.
 Sebelum teruji kebenarannya secara empiris semua penjelasan rasional yang diajukan statusnya hanya bersifat sementara yang disebut hipotesis.
 Hipotesis merupakan dugaan atau jawaban sementara terhadap masalah yang sedang dihadapi.
 Dalam melakukan penelitian untuk mendapatkan jawaban yang benar seorang ilmuwan seakan-akan melakukan suatu interogasi terhadap alam.
 Hipotesis dalam hubungan ini berfungsi sebagai petunjuk jalan yang mungkin untuk mendapatkan jawaban, karena alam itu sendiri membisu dan tidak responsif terhadap pertanyaan-pertanyaan.
 Hipotesis bisa didasarkan secara deduktif, yaitu dengan mengambil premis-premis dari pengetahuan ilmiah yang sudah diketahui sebelumnya.
 Dengan adanya hipotesis ini, maka metode ilmiah sering dikenal dengan logico-hypotheti-coverifikasi.
 Tyndall (1964) hipotesis merupakan perkawinan yang berkesinambungan antara deduksi dan induksi.
Proses induksi mulai memegang peranan dalam tahap verifikasi atau pengkajian hipotesis, dimana dikumpulkan fakta-fakta empiris untuk menilai apakah sebuah hipotesis didukung oleh fakta atau tidak.
Penyusunan hipotesis dilakukan dalam kerangka permasalahan yang bereksistensi secara empiris dengan pengamatan yang mau tidak mau mempengaruhi proses berpikir deduktif.
 Kerangka berpikir ilmiah yang berintikan proses logico-hypothetico-verifikasi terdiri dari :
 Perumusan masalah, merupakan pertanyaan mengenai obyek empiris yang jelas batas-batasannya serta dapat diidentifikasikan faktor-faktor yang terkait di dalamnya.
 Penyusunan kerangka berpikir dalam penyusunan hipotesis, merupakan argumentasi yang menjelaskan hubungan yang mungkin terdapat antara berbagai faktor yang saling terkait dan membentuk konstelasi permasalahan. Kerangka berpikir disusun secara rasional berdasarkan permis-permis ilmiah yang telah teruji kebenarannya dengan memperhatikan faktor-faktor empiris yang relevan dengan permasalahan.
 Perumusan hipotesis, merupakan jawaban sementara atau dugaan terhadap pertanyaan yang diajukan yang materinya merupakan simpulan dari kerangka berpikir yang dikembangkan.
 Pengujian hipotesis, merupakan pengumpulan fakta-fakta yang relevan dengan hipotesis yang diajukan untuk memperlihatkan apakah terdapat fakta-fakta yang mendukung hipotesis tersebut atau tidak.
 Penarikan simpulan, merupakan penilaian apakah sebuah hipotesis yang diajukan itu ditolak atau diterima.

BAGAN ALIR METODE ILMIAH
















D. Struktur Pengetahuan Ilmiah
 Pengetahuan yang diproses menurut metode ilmiah merupakan pengetahuan yang memenuhi syarat-syarat keilmuan => Pengetahuan Ilmiah atau Ilmu.
 Sebuah hipotesis yang telah teruji secara formal diakui sebagai pernyataan pengetahuan ilmiah yang baru yang memperkaya khasanah ilmu yang telah ada.
 Metode ilmiah mempunyai mekanisme umpan balik yang bersifat korektif yang memungkinkan upaya keilmuan menemukan kesalahan. Sebaliknya bila ternyata pengetahuan ilmiah yang baru itu benar, maka pernyataan yang terkandung dapat dipergunakan sebagai premis baru dalam kerangka pemikiran yang menghasilkan hipotesis-hipotesis baru, kemudian ternyata dibenarkan pada proses pengujian, maka akan menghasilkan pengetahuan-pengetahuan ilmiah baru.
 Pada dasarnya ilmu dibangun secara bertahap dan sedikit demi sedikit dimana para ilmuwan memberikan sumbangan menurut kemampuannya.
 Tidak benar anggapan bahwa ilmu dikembangkan hanya oleh para jenius saja yang bergerak dalam bidang keilmuan.
 Secara kuantitatif ilmu dikembangkan oleh masyarakat keilmuan secara keseluruhan, meskipun secara kualitatif beberapa orang jenius seperti Newton atau Einstein merumuskan landasan-landasan baru yang bersifat mendasar.
 Ilmu merupakan kumpulan pengetahuan yang bersifat menjelaskan berbagai gejala alam yang memungkinkan manusia melakukan serangkaian tindakan untuk mengatasi gejala tersebut berdasarkan penjelasan yang ada.
 Penjelasan keilmuan memungkinkan kita meramalkan apa yang akan terjadi dan berdasarkan ramalan tersebut kita bisa melakukan upaya untuk mengontrol agar ramalan itu menjadi kenyataan atau tidak.
 Secara garis besar terdapat empat jenis penjelasan yaitu :
 Penjelasan deduktif, menggunakan cara berpikir deduktif dalam menjelaskan suatu gejala dengan menarik simpulan logis dari premis-premis yang telah ditetapkan sebelumnya.
 Penjelasan probabilistik, merupakan penjelasan yang ditarik secara induktif dari sejumlah kasus.
 Penjelasan fungsional, merupakan penjelasan yang meletakkan sebuah unsur dalam kaitannya dengan sistem secara keseluruhan yang mempunyai karakteristik atau perkembangan tertentu.
 Penjelasan genetik, menggunakan faktor-faktor yang timbul sebelumnya dalam menjelaskan gejala yang muncul kemudian.
 Teori merupakan pengetahuan ilmiah yang mencakup penjelasan mengenai suatu faktor tertentu dari sebuah disiplin keilmuan.
 Ilmu Ekonomi => Teori ekonomi makro dan mikro
 Ilmu Fisika => Teori mekanika Newton
 Sebuah teori biasanya terdiri dari hukum-hukum. Misalnya dalam teori ekonomi mikro dikenal dengan hukum permintaan dan penawaran.
 Hukum disini pada hakekatnya merupakan pernyataan hubungan antara dua variabel atau lebih dalam suatu kaitan sebab akibat. Misalnya pada hukum ekonomi dapat dilihat hubungan sebab akibat antara permintaan, penawaran dan pembentukan harga.
 Pengetahuan ilmiah dalam bentuk teori dan hukum harus mempunyai tingkat keumuman yang tinggi, atau secara ideal harus bersifat universal.
 Makin tinggi tingkat keumuman sebuah konsep, maka makin teoritis konsep tersebut.
 Beberapa disiplin keilmuan sering mengembangkan apa yang disebut postulat dalam menyusun teorinya.
 Postulat merupakan asumsi dasar yang kebenarannya kita terima tanpa dituntut pembuktiannya.
 Kebenaran ilmiah harus disahkan lewat sebuah proses yang disebut metode keilmuan, sedangkan postulat ilmiah ditetapkan secara begitu saja.


AKSIOLOGI
NILAI KEGUNAAN ILMU
A. Ilmu dan Moral
Merupakan kenyataan yang tidak bisa dipungkiri bahwa peradaban manusia sangat berhutang kepada ilmu dan teknologi. Berkat kemajuan dalam bidang ini maka pemenuhan kebutuhan manusia bisa dilakukan dengan cepat dan mudah, disamping itu kemudahan dibidang lainnya, seperti kesehatan, transportasi, pendidikan, pemukiman dan komunikasi.
Namun dalam kenyataannya apakah ilmu selalu merupakan berkah terbebas dari kutuk yang membawa malapetaka dan kesengsaraan ?
 Sejak dalam tahap-tahap pertama pertumbuhan ilmu, sudah dikaitkan dengan perang. Ilmu bukan saja digunakan untuk menguasai alam, melainkan juga untuk memerangi sesama manusia dan menguasainya.
 Di pihak lain, perkembangan ilmu sering merupakan faktor (masalah) bagi manusia, dimana bukan lagi teknologi yang berkembang seiring dengan perkembangan dan kebutuhan manusia, namun justru sebaliknya, manusialah akhirnya yang harus menyesuaikan diri dengan teknologi.
 Teknologi tidak lagi berfungsi sebagai sarana yang memberikan kebutuhan bagi manusia, melainkan berada untuk tujuan eksistensinya sendiri. Kadang-kadang harus dibayar mahal oleh manusia yang kehilangan sebagian arti kemanusiannya.
 Manusia sering diharapkan dengan situasi yang tidak bersifat manusiawi, terpenjara dalam kisi-kisi teknologi, yang merampas kemanusiaan dan kebahagiannya.
 Dewasa ini ilmu bahkan sudah berada diambang kemajuan yang mempengaruhi reproduksi dan penciptaan manusia itu sendiri.
 Ilmu bukan saja menimbulkan gejala dehumanisasi, namun bahkan kemungkinan mengubah hakikat kemanusiaan itu sendiri, atau dengan perkataan lain ilmu bukan lagi merupakan sarana yang membantu manusia mencapai tujuan hidupnya, namun juga menciptakan tujuan hidup itu sendiri.
 Menghadapi kenyataan ini, maka ilmu mempelajari alam sebagaimana adanya mulai mempertanyakan hal-hal yang bersifat seharusnya :
 Untuk apa sebenarnya ilmu itu harus digunakan ?
 Di mana batas wewenang penjelajahan keilmuan ?
 Ke arah mana perkembangan keilmuan harus diarahkan ?
 Pertanyaan di atas jelas tidak merupakan urgensi bagi ilmuwan seperti Copernicus, Galileo dan ilmuwan seangkatannya, namun bagi ilmuwan yang hidup dalam abad kedua puluh yang telah mengalami dua kali perang dunia hidup dalam kekhawatiran perang dunia ketiga, maka pertanyaan-pertanyaan tersebut tak dapat dielakkan, maka untuk menjawab pertanyaan ini ilmuwan berpaling kepada hakikat moral.
 Sejak pertumbuhannya ilmu sudah terkait dengan masalah-masalah moral, namun dalam perspektif yang berbeda.
 Copernicus (1473 - 1543) mengajukan teorinya tentang kesemestian alam dan menemukan bahwa bumi yang berputar mengelilingi matahari dan bukan sebaliknya seperti apa yang dinyatakan oleh ajaran agama, maka timbullah interaksi antara ilmu dan moral (yang bersumber pada ajaran agama) yang berkonotasi metafisik.
 Dalam tahap kontemplasi masalah moral berkaitan dengan metafisik keilmuan, maka dalam tahap manipulasi masalah moral berkaitan dengan cara penggunaan pengetahuan ilmiah.
 Secara filsafati dapat dikatakan dalam tahap pengembangan konsep terdapat masalah moral yang ditinjau dari segi ontologi keilmuan, sedangkan tahap penerapan konsep terdapat masalah moral ditinjau dari segi aksiologi.
 Ontologi diartikan sebagai pengkajian mengenai hakikat realitas dari obyek yang ditelaah dalam membuahkan pengetahuan.
 Aksiologi diartikan sebagai teori nilai yang berkaitan dengan kegunaan dari pengetahuan ilmiah.
 Teknologi yang mengakibatkan proses dehumanisasi sebenarnya lebih merupakan masalah kebudayaan daripada masalah moral, artinya dihadapkan dengan ekses teknologi yang bersifat negatif, maka masyarakat harus menentukan teknologi mana saja yang akan dipergunakan dan teknologi mana yang tidak. Secara konseptual berarti masyarakat harus menetapkan strategi pengembangan teknologi, sesuai dengan nilai-nilai budaya yang dijunjungnya.
 Masalah moral tak bisa dilepaskan dengan tekad manusia untuk menemukan kebenaran, sebab untuk menemukan kebenaran diperlukan keberanian moral.
 Sejarah kemanusiaan dihiasi semangat para martir yang rela mengorbankan nyawanya dalam mempertahankan apa yang mereka anggap benar. Peradaban telah menyaksikan Sokrates dipaksa meminum racun dan John Huss dibakar.
 Kemanusiaan tak pernah urung dihalangi untuk menemukan kebenaran. Tanpa landasan moral, maka ilmuwan mudah sekali tergelincir dalam melakukan prostitusi intelektual.

B. Tanggung Jawab Sosial Ilmuwan
 Penciptaan ilmu bersifat individual, namun komunikasi dan penggunaannya bersifat sosial.
 Peranan individu inilah yang menonjol dalam kemajuan ilmu dimana penemuan seorang, seperti Newton atau Edison dapat mengubah wajah peradaban.
 Kreativitas individu yang didukung oleh sistem komunikasi sosial yang bersifat terbuka menjadi proses pengembangan ilmu yang berjalan sangat efektif.
 Secara historis fungsi sosial dari kaum ilmuwan telah lama dikenal dan diakui, misalnya :
 Raja Charles II dari Inggris mendirikan The Royal Society yang bertindak selaku penawar bagi fanatisme di masyarakat pada waktu itu.
 Andre Sakharov bukan saja mewakili sikap pribadinya, namun pada hakikatnya mencerminkan sikap kelembagaan profesi keilmuan dalam menanggapi masalah-masalah sosial.
 Penelaah ilmiah dimulai dengan menentukan masalah dan demikian juga halnya dengan proses keputusan dalam hidup bermasyarakat.
 Apakah mungkin suatu masalah diselesaikan sekiranya masyarakat itu sendiri tidak sadar akan pentingnya masalah tersebut? Beberapa masalah sedemikian eksoterik dan rumit, sehingga masyarakat tidak dapat meletakkan dalam proporsi yang sebenarnya.
 Dari masalah tersebut, maka peranan ilmuwan menjadi suatu yang imperatif.
 Ilmuwan mempunyai latar belakang pengetahuan yang cukup untuk menempatkan masalah tersebut pada proporsi yang sebenarnya. Oleh sebab itu ilmuwan mempunyai kewajiban sosial untuk menyampaikan hal tersebut kepada masyarakat banyak dalam bahasa yang dapat dicerna.
 Tanggung jawab ilmuwan dalam hal ini adalah memberikan perspektif yang benar, untung dan ruginya, baik dan buruknya, sehingga penyelesaian yang objektif dapat dimungkinkan.
 Ilmuwan berdasarkan pengetahuannya memiliki kemampuan untuk meramalkan apa yang terjadi. Misalnya apa yang akan terjadi dengan ilmu dan teknologi dimasa yang akan datang berdasarkan proses pendidikan keilmuan sekarang.
 Kemampuan analisis seorang ilmuwan mungkin menemukan alternatif dari obyek permasalahan yang sedang menjadi pusat perhatian.
 Kemampuan analisis seorang ilmuwan dapat dipergunakan untuk mengubah kegiatan non produktif yang menjadi kegiatan produktif yang bermanfaat bagi masyarakat banyak.
 Kemampuan pengetahuan seorang ilmuwan harus dapat mempengaruhi opini masyarakat terhadap masalah-masalah yang seyogyanya mereka sadari. Dalam hal ini berbeda dengan menghadapi masyarakat ilmuwan yang etis dan esoterik, ilmuwan harus berbicara dengan bahasa yang dapat dicernakan oleh orang awam.
 Proses menemukan kebenaran secara ilmiah mempunyai implikasi etis bagi seorang ilmuwan. Karakteristik proses tersebut merupakan kategori moral yang melandasi sikap etis seorang ilmuwan.
 Salah satu sendi masyarakat modern adalah ilmu dan teknologi. Kaum ilmuwan tidak boleh picik dan menganggap ilmu dan teknologi itu alpha dan omega dari segala-galanya, masih terdapat banyak lagi sendi-sendi lain yang menyangga peradaban manusia yang baik.
 Berdirinya pilar penyangga keilmuan ini merupakan tanggung jawab sosial seorang ilmuwan, sebab hal ini merupakan bagian dari hakikat ilmu itu sendiri.


C. Nuklir dan Pilihan Moral
 Seorang ilmuwan secara moral tidak akan membiarkan hasil penemuannya dipergunakan untuk menindas bangsa lain meskipun yang mempergunakan itu adalah bangsanya sendiri.
 Pilihan moral ini kadang-kadang memang getir, sebab tidak bersifat hitam di atas putih. Akibatnya bom atom di Hirosima dan Nagasaki masih berbekas dalam lembaran sejarah kemanusiaan.
 Salah satu musuh kemanusiaan yang besar adalah peperangan, karena perang menyebabkan kehancuran, pembunuhan dan kesengsaraan. Oleh karena itu tugas ilmuwan adalah untuk menghilangkan atau mengecilkan terjadinya peperangan.
 Kemajuan ilmu pengetahuan tidak melalui loncatan-loncatan yang tidak berketentuan, melainkan melalui proses kumulatif secara teratur. Misalnya penyembuhan penyakit kanker harus didahului dengan penemuan dasar dibidang biologi molekuler.
 Usaha menyembunyikan kebenaran dalam proses kegiatan ilmiah merupakan kerugian bagi kemajuan ilmu pengetahuan. Oleh karena itu ilmu pengetahuan itu bersifat netral, sehingga dengan kenetralan ini menjadikan ilmu bersifat universal.
 Ilmu mengabdi pada kemanusiaan dengan menyumbangkan penemuan-penemuan yang didapat lewat kegiatan ilmiah. Kemanusiaan bagi seorang ilmuwan tidak terikat oleh ruang dan waktu.
 Pengetahuan bisa merupakan berkah dan mungkin merupakan kutukan, tergantung bagaimana memanfaatkan pengetahuan tersebut.
 Bilamana ilmu pengetahuan dipergunakan tidak sebagaimana mestinya, tidak membawa berkah kepada kemanusiaan sebagaimana yang diharapkan dan bahkan menjadi kutukan. Oleh karena itu ilmuwan wajib bersikap dan tampil ke depan.

D. Revolusi Genetika
 Revolusi genetika merupakan babak baru dalam sejarah keilmuan manusia. Hal ini bukan berarti bahwa sebelumnya tidak pernah ada penelaahan ilmiah yang berkaitan dengan jasad manusia, tentu banyak sekali, namun penelaahan-penelaahan itu dimaksudkan untuk mengembangkan ilmu dan teknologi dan tidak membidik secara langsung manusia sebagai obyek penelaahan.
 Ilmu berfungsi sebagai pengetahuan yang membantu manusia dalam mencapai tujuan. Tujuan hidup berkaitan erat dengan hakikat kemanusiaan, dan bersifat otonom.
 Apa sebenarnya tujuan hidup manusia? Dalam hal ini maka ilmu tidak berwenang untuk menentukan, artinya ilmu tidak berhak menjamah daerah kemanusiaan yang akan mempunyai pengaruh terhadap kelangsungan hidupnya.
 Analisis substantif dari pemikiran tersebut diatas membawa kepada beberapa permasalahan seperti :
 Sekiranya mampu membiakan manusia yang IQ-nya 160, apakah ilmu memberi jaminan bahwa dia akan berbahagia (bila kebahagiaan merupakan tujuan manusia). Dalam hal ini ilmu tidak akan memberikan jawaban yang bersifat apriori (sebelumnya), sebab kesimpulan ilmiah baru bisa ditarik setelah proses pembuktian yang bersifat aposteori (sesudahnya).
 Jadi secara moral bersedia meluruskan penciptaan manusia yang mempunyai IQ 160, maka dengan ilmu-pun tidak bisa memberikan jaminan bahwa dia berbahagia.
 Secara moral kita lakukan evaluasi etis terhadap suatu obyek yang tercakup dalam obyek formal ilmu. Menghadapi nuklir yang sudah merupakan kenyataan, moral hanya mampu memberikan penilaian yang bersifat aksiologis, bagaimana sebaiknya mempergunakan tenaga nuklir untuk keluhuran martabat manusia.

RANGKUMAN NALAR
KONTEMPLASI DAN REALITA
(HERMAN SOEWARDI, 1998)

1. Dalam ilmu sejarah, barat memandang perjalanan sejarah dunia berlandaskan pada paradigma mereka, sedangkan di timur, merekapun memandang, bahwa barat banyak mengadopsi paradigma timur. Adapun Allah SWT "Dia mengajarkan kepada manusia yang tidak diketahuinya" Al-Alaq : 5. Bagaimana rasio ilmu manusia terhadap ilmu Allah.
2. Evolusi di dunia itu ada dan itu adalah qudrat yaitu pergerakan dari simpel ke kompleks dan gerak itu selalu diayomi oleh Allah. Hal ini dibuktikan dengan diturunkannya para Nabi sebagai pengayom yang meluruskan kehidupan manusia di tiap periode. Puncak pengayoman adalah lahirnya Nabi Muhammad SAW dan kitab Al-Qur'an, untuk mengayomi manusia modern.
3. Ilmu alamiah bersifat; phenomena dapat konseptualisasikan dengan tegas, pengukuran konsep dapat rasional atau mutlak, sistem komputasi menggunakan statistik para metrik. Adapun ilmu sosial bersifat; phenomena konsep bersifat overlapping, skala pengukuran nominal (A beda dengan B atau biru, putih, hijau), ordinal (A lebih besar dari B), interval (berbeda berskala).
4. Tujuan fungsi Al-Qur'an; Nur Mubin (cahaya pembimbing, 4 : 17-40, Hudan (penyuluh/petunjuk), Shyifa (obat), Rohmah (rahmat), Ma'idzoh (nasehat, 10 : 57), Basyir (berita, pesan), Nadzir (peringatan, 41 : 3-4).
5. Prestasi Nabi Muhammad; kecil sebagai yatim, ia hidup prihatin dan jadi penggembala maka berjiwa sayang lingkungan, muda menjadi pengusaha sukses, kenal dengan konglomerat dan tokoh kabilah, menjadi penengah pertikaian politik antara suku Quraisy saat membangun Ka'bah, berhasil membangun Negara Madinah.
6. Golongan Jabariah, memandang bahwa manusia tidak berdaya karena dosa ada di tangan Tuhan, adapun Mu'tazillah menundukkan hukum naqli kepada hukum akal, karena alam dapat dipahami oleh akal manusia.
7. Kelahiran faham freedom (kebebasan) dituntut kekuatan psikis yang memerlukan "nerving" (pembarnian), yang melahirkan "new scurity" yaitu sukses dalam pengumpulan harta merupakan keterpilihan, pengejaran harta merupakan perintah agama (berkembang di Eropa).
8. Abad filsafat (abad 17) dan sains modern, Descartes memulai dengan pola pemikiran dedukatif dan Francis Bacon memulai dengan pemikiran induktif.
9. Kemajuan Eropa meningkat (abad 18) pada abad enlightenment (pencerahan) yaitu untuk mencapai efektifitas pemikiran maka kukungan gereja sekalipun harus terlepas. Bidang eknomi, Adam Smith berpandangan bahwa kebangkitan ekonomi harus dilecit oleh self-interest.
10. Abad 19 berkembang utilitarianisme (hedonisme) dimana dikatakan Marshall "the Good (moral) is resistance to pleasure" atau moral itu penghalang untuk tercapainya kenikmatan, lalu "variety is the spice of life" bahwa kebutuhan orang itu tidak ada batasnya.
11. Ekonomi modern menjadi "wants" yaitu berbagai keinginan dan bukan "needs" atau kebutuhan.
12. Konsep pembangunan Indonesia; Azas Sumitro-isme (membangun berlandaskan SDM murah), azas Ginanjar-isme (pemberdayaan masyarakat), azas Habibi-isme (fungsi nilai tambah).
13. Ginanjar-isme disebut Mosher "The Progessive Rural Structure" tahun 1969. Dalam rangka Bimas, struktur progresif disebut Unit Desa dengan catur sarana yang telah melepaskan swasembada beras tahun 1984.
14. Pengembangan konsep Ginanjar, di Jawa Barat dikembangkan Santri Raksa Desa (sarasa) pada pertengahan tahun 90-an.
15. Adapun azas Habibiisme, mengembangkan teknologi strategis yang telah menghasilkan pesawat terbang CN-35 dan Gatot Kaca, namun dalam pemasarannya baru mampu dibarter dengan beras ketan dan gaplek singkong.
16. Puncak keprihatinan bangsa adalah kegagalan ekonomi dan pemerintahan dibawah serangkaian kabinet "ORDE BARU" yang faktor penyebabnya diawali oleh terlalu lamanya kekuasaan dijalankan oleh satu kabinet pemerintahan yang disinyalir berjalan sejak 1965 hingga 1997. Perhatikan jalur kekeliruannya tersebut.
17. Wara laba (lebih keuntungan) yaitu kerjasama antara pengusaha besar dengan pengusaha kecil yang berkembang setelah Perang Dunia kedua di Eropa. Awalnya berkembang dengan wara laba asing seperti Kentucky (KFC) dan Dunkin Donnat dll. Di Indonesia dikenal dengan wara laba lokal, menggunakan produk lokal. Bisa menggunakan merek dagang, asistensi, pelatihan, pemasaran dll.
18. Perhatikan perkembangan ; Demokrasi (politik), HAM (pembangunan), ANDAL (eksplorasi SDA dan pengembangan pembangunan), quality control (produk barang industri), dan haki (perlindungan hak cipta dan paten).
19. Ali bin Abi Thalib ; hari ini lebih baik dari kemarin (untung), hari ini sama dengan kemarin (rugi), hari ini lebih buruk dari kemarin (celaka). Semangat bushido (pantang menyerah), keluar mulut harimau, masuk mulut buaya, keluar mulut buaya masuk mulut ular, tetapi mendapat harimau, kulit buaya dan kulit ular seklaigus.

PILIHAN NABI SAAT MI'RAJ MENJADI SAINS EMPIRIKAL
(DASAR ILMU DAN PENGALAMAN)


Titik
Tetapan

Landasan filsafat Sains empirikal
Dasar ilmu dan pengalaman

Hasil akhir
Diri (psikolog) Antar diri (Sosiologi) Keduanya (ekonomi)
KUFUR
Sains barat sekuler.
Garis alkohol mengabdi pada self interest POSITIVISM
(Rasionalisasi) Amarah (libido = nafsu birahi) 12 : 15 Nafsu menyuruh pada kejahatan Conflict Competition for Gain (serakah) HAPPINESS
Sesaat (diganti resah gelisah) 57 : 20
MUKMIN Mengabdi kepada Allah. Garis susu, sains Tauhidullah ISLAM
Aqidah-syari'ah
(iman dan taqwa) Akhlaq
(mutmainnah) 89 : 27 - 30 jiwa yang tenang kembali pada Tuhannya Ukhuwah (semua muslim bersaudara) 49 : 10 Competition for achievment "fastabiqul khairat" (Hanif) 2 : 148 HASANAH
"baldatun toyibatun, warabbun ghafuur" 2 : 201

Dua jalur dari orang yang mendapat hidayah dan yang tidak?
(12 : 53) : Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh pada kejahatan
(57 : 20) : Kehidupan dunia hanyalah permainan dan kesenangan yang menipu.
(89 : 27-30) : Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai.
(49 : 10) : Sesungguhnya orang-orang mukmin bersaudara
(2 : 210) : Ya Tuhan kami, berilah kami kehidupan di dunia yang baik dan di akhirat yang baik.

Catatan : kehidupan di dunia yang baik, tidak identik dengan senang dan santai.



I. PENDAHULUAN

PS : MAGISTER ILMU ADMINISTRASI (MSi)
BKU : ADMINISTRASI PUBLIK

Tujuan (lulusan yang diharapkan) :
5. Mampu meningkatkan pelayanan profesi melalui penelitian dan pengembangan.
6. Mampu berpartisipasi dalam pengembangan bidang ilmu Administrasi Negara, khususnya masalah Administrasi Publik.
7. Mampu mengembangkan penampilan profesional dalam spektrum yang lebih luas dengan mengkaitkan bidang ilmu atau profesi yang serupa (bidang ilmu Administrasi Negara, khususnya masalah Administrasi Publik).
8. Mampu merumuskan pendekatan penyelesaian berbagai masalah masyarakat dengan cara penalaran ilmiah.

Tujuan Filsafat Ilmu :
 Memberikan pemahaman tentang landasan substansi ilmu, dasar pijakan berpikir, memahami sumber dan status kebenaran, menumbuhkan semangat berpikir, pendekatan dan prosedur berpikir ilmiah, tanggungjawab ilmiah, cakrawala ilmu sosial dan ilmu alam, dan tujuan ilmu.

Silabus Filsafat Ilmu :
 Ilmu (sains) sebagai pengetahuan yang dipandu secara normatif dari (Tuhan Yang Maha Esa) pencarian atau penguasaan ilmu. Sumber & status kebenaran dan nilai ilmu. Manusia yang berkemampuan untuk mengetahui, nalar dan hasil nalar, sejarah perkembangan filsafat dan ilmu, dunia rasa dan ratio, ikhtiar versus takdir, sains empiris, anatomi sains penalaran deduktif, hubungan diantara filsafat, sains dan metodologi, persamaan & perbedaan ilmu alamiah & ilmu sosial, perintisan ilmu (sains) berdasarkan agama.

Kompetensi dasar berkembang atau dikembangkan?
Kemampuan dapat dibangkitkan :
• Oleh orang lain (dituntut belajar, diaktifkan instrumennya).
• Berupaya bangkit sendiri atas kesadarannya.
• Terdorong oleh kekuatan lingkungan.

Segala sesuatu yang dilewati dalam hidup, akan menjadi pengalaman (memory) dan akan terakumulasi menjadi kekuatan. Nilai yang terkandung akan mengalami reaksi (antara kebaikan dan keburukan).
Kompetensi dasar yang dimiliki diarahkan untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman akan isi silabus yang meliputi :
Teori Administrasi, Organisasi, Isu pembangunan, Kebijakan Publik, Administrasi perbandingan, Manajemen publik, Keuangan negara, Evaluasi kebijakan, Rencana pembangunan dan Pembangunan Wilayah, Pemerintah daerah, Otonomi daerah, dan Metodelogi penelitian.

Kesinambungan Filsafat Ilmu, Metodologi Penelitian, dan statistik meliputi;
• Filsafat ilmu, mengantarkan dorongan dan semangat manusia untuk mengembangkan ilmu. Menerangkan latar belakang pencarian ilmu dan kebenaran relatif suatu ilmu untuk menuju kesejahteraan, kemudahan memulai, memproses, serta kemudahan mengembangkan keguaannya mengenai urusan Administrasi Publik, tanpa mengabaikan firman Allah SWT sebagai penjamin hidup-mati-dan hidup dalam kemuliaan.
• Metode penelitian, penunjang kemampuan proses pengkajian substansi, meliputi latar belakang, tujuan, dsb ============> hingga berbagai model penetapan dalam penarikan kesimpulan.
• Statistik, kolerasi, dan regresi, menunjang teknik tabulasi, penhitungan, dan penetapan nilai terhadap hasil perhitungan, untuk mendapatkan akurasi penarikan kesimpulan.

Substansi dasar kemampuan manusia (kompetensi dasar menulis) meliputi: kemampuan melihat, mendengar, membaca, menulis, menggambar, mencium, merasa, membayangkan, berbicara, berargumen, dan keterampilan teknis atas anggota badannya.

Pembagian operasi beberapa organ tubuh:
Mata => melihat, observasi
Telinga => mendengar
Mulut => membaca, berbicara, berargumen
Hidung => mencium
Lidah => merasa
Otak => berfikir, mengingat, menghitung, membayangkan,
berimajinasi
Tangan => menulis dan menggambar

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar